PERBANDINGAN AGAMA: TUJUAN DAN FAEDAH MEMPELAJARI ILMU PERBANDINGAN AGAMA
![]() |
| pixabay |
A. Tujuan Mempelajari Ilmu Perbandingan Agama
Studi
agama-agama tidak menonjolkan ego agama, melainkan memahami makna-makna ajaran,
historisitas, dan fenomena agama dalam realitas kesejarahan hidup manusia,
untuk menemukan titik kerukunan antar Tuhan dan agar terwujud kerukunan
antarumat beragama.[1]
Studi agama-agama adalah
sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala
kepercayaan-kepercayaan dalam agama-agama dan hubungan antar agama-agama, baik
dalam aspek normatif-doktrinal, historis-empiris, maupun kritik filosofis.
Pemahaman ini meliputi nilai-nilai kedirian suatu agama dan persamaan dan
perbedaan antar agama-agama. Dalam studi tersebut, struktur yang asasi dari
pengalaman keagamaan manusia dan pentingnya bagi hidup dan kehidupannya
dipelajari dan diperbandingkan secara objektif, bukan secara apologis dan
apologetis.
Tujuan kuliah ilmu
perbandingan agama bagi mahasiswa ini dapat dikategorikan menjadi tujuan umum
dan tujuan khusus.
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan dasar-dasar wawasan tentang
agama-agama yang meliputi: aspek normatif-teologis-doktinal maupun aspek
historis-empiris-fenomenal.
2. Tujuan Khusus
Untuk memberikan bekal wawasan lintas agama bagi para
pelaku studi dan praktisi dakwah Islam, agar mereka tidak mudah terjebak pada
sikap-sikap apologis, apologetis, dan bahkan diskriminatif dalam studi dan
praktik dakwah Islam.[2]
Adapun tujuan dari ilmu
perbandingan agama adalah untuk mengumpulkan dan mencatat hal-hal berkaitan
dengan agama, seperti; sejarah kelahirannya, perkembanganya, bagaimana
ajaranya, dimana agama tersebut menyebar, siapa pendirinya dan lain lain. Ilmu
ini juga merupakan sebuah langkah awal dari terciptanya toleransi antara umat
beragama. Toleransi akan tercipta apabila satu agama memahami agama yang lain.
Pemahaman tersebut akan terwujud bila ia mengenali agama lain. Contoh, umat
Kristen akan toleran terhadap sholat bila ia memahami dan mengetahui bahwa
sholat merupakan ibadah wajib bagi setiap kaum muslim. Kelalaian dalam sholat
oleh seorang muslim merupakan suatu dosa besar.[3]
Tujuan lain dari ilmu
perbandingan agama adalah mencari asal usul agama, pembahasannya biasanya
berkisar tentang dari manakah agama itu berasal apakah benar ia berasal dari
wahyu ilahi? Kalau tidak apakah ia berasal dari penyembahan nenek moyang atau
lainnya?[4]
- Faedah
Mempelajari Ilmu Perbandingan Agama
Prof.
Dr. H. Mukti Ali dalam bukunya Ilmu Perbandingan Agama (Sebuah
Pembahasan tentang Metodos dan Sistema), mengemukakan bahwa guna dan faedah
ilmu perbandingan agama bagi seorang muslim adalah:
1. Memahami
kehidupan batin, alam pikiran dan kecenderungan hati berbagai umat manusia.
2. Mencari
dan menemukan segi-segi persamaan dan perbedaan antara agama Islam dengan
agama-agama bukan Islam. Hal ini sangat berguna untuk perbandingan, untuk
membuktikan, di manakah segi-segi dari agama Islam yang melebihi agama-agama
lain, berguna juga untuk menunjukkan bahwa agama-agama lain yang datang sebelum
Islam itu adalah sebuah pengantar terhadap kebenaran yang lebih luas dan lebih
penting dari agama Islam.
3. Menumbuhkan
rasa simpati terhadap orang-orang yang belum mendapat petunjuk tentang
kebenaran, serta menimbulkan rasa tanggung jawab untuk menyiarkan
kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam agama Islam kepada masyarakat ramai.[5]
Juga
pendapat Richard E. Creel, bahwa ada beberapa alasan mengapa ilmu perbandingan agama
itu penting karena tujuan dan manfaat yang akan di peroleh nantinya. Khusus
mengenai Ilmu Perbandingan Agama ada tiga yang terpenting:
1. Kalau
untuk pendidikan tinggi, berarti mengenal dengan baik beberapa aspek yang
mendasar tentang eksistensi manusia, maka mustahil seseorang yang berpendidikan
tinggi mengabaikan pemahaman terhadap agama secara masak. Mengapa ? Karena
agama adalah satu komponen eksistensi manusia yang paling kuno, universal dan
abadi. Tanpa meninggalkan keantikanya, apabila kita melihat ke belakang maka
kita akan menelusuri budaya manusia dan menemukan beberapa bukti kepercayaan
agama maupun praktek-prakteknya. Bukti tersebut misalnya berupa bentuk atau
corak pemakaman, kuburan, lukisan yang di tatahkan pada dinding-dinding gua dan
sebagainya.
2. Mempelajari
agama, khususnya perbandingan agama adalah memahami agama lain dan para
pemeluknya dengan lebih baik sehingga dengannya kita dapat berkomunikasi secara
lancar. Di antara hal yang harus kita ketahui supaya manusia dapat
berkomunikasi dengan baik dan lancar adalah dengan cara mengenal kepercayaan
dan keyakinan seseorang maupun praktek-prakteknya..
3. Untuk
kepentingan pribadi, secara langsung dan secara mendalam agama banyak kaitannya
dengan beberapa hal yang selalu hadir dalam sanubari kita. Karena itu sudah
selayaknyalah dan sudah sewajarnya kalau kita mempelajari agama. sebagai suatu
usaha menemukan diri kita sendiri dan memahami realitas, di mana kita merupakan
salah satu bagian dari padanya.[6]
Dan
kalau kita setuju dengan tulisan Richard E. Creel, maka seorang ahli ilmu
perbandingan agama harus menempatkan diri agar tidak bersifat apologis, karenanya:
1. Untuk
menjadi seorang ahli ilmu perbandingan agama tidak perlu terbatas pada suatu
pendidikan tinggi.
2. Sebagai
seorang ahli ilmu perbandingan agama, dia harus tidak memihak kepada agama
tertentu dan tidak perlu khawatir terpikat oleh ajaran-ajaran agama lain.
3. Sebagai
seorang ahli ilmu perbandingan agama dalam mendekati agama secara
memperbandingkan dengan suatu agama tertentu mungkin tertarik mempraktekkan
ajaran-ajaran dalam suatu konteks yang non apologetis karena itu seorang ahli
ilmu perbandingan agama perlu mengidentifikasi tugas-tugasnya dengan beberapa
hal seperti:
a)
Mengidentifikasi
tema maupun elemen-elemen yang membelah lintang agama-agama pada umumnya,
seperti misalnya ritus agama, mitos agama, korban, simbol agama dan
lain-lainya.
b)
Memperlihatkan
dan menunjukkan keanekaragaman bentuk-bentuk ritus, mitos dan korban serta
simbol yang ada dalam agama dan kepercayaan.
c)
Membandingkan
dan mempertentangkan, dengan menghargai sepenuhnya agama-agama tertentu tadi
dalam masalah-masalah ritus, mitos dan korban serta simbol.
d)
Semestinya
bertindak sebagai wasit antara tradisi dan ajaran agama yang membantu orang
untuk mencapai suatu pemahaman yang akurat dan mendalam, dan juga membantu
menemukan beberapa istilah dan konsep yang dapat menjelaskan pemahaman dia sendiri
dan pemahaman orang lain.
C.
Kontekstualisasi
Tujuan Dan Faedah Ilmu Perbandingan Agama Dalam Dunia Pendidikan Islam
Salah
satu tujuan Ilmu perbandingan Agama, mengutip Joachim Wach dalam bukunya The
Comparative Studi of Religions ( 1958), adalah memahami agama-agama
lain.Untuk mencapai tujuan itu, seorang ahli perbandingan agama membutuhkan
sejumlah kelengkapan, yaitu kelengkapan intelelektual, kondisi emosional, dan
terakhir kelengkapan pengalaman. Selanjutnya Wach juga menekankan pentingnya
metodologi yang dipergunakan dalam studi agama-agama, tampah mengabaikan
manfaat pendekatan-pendekatan yang telah ada, Wach menganjurkan agar
mempergunakan metode fenomenologi agama. Bertolak dari pandangan Wach diatas,
ilmu perbandingan agama di Indonesia, setidak-tidaknya dapat ditelusuri
perkembangannya melalui tiga periode;[7]
Periode
pertama adalah generasi sebelum era A. Mukti Ali, seperti
Ilyas Ya’kub, Prof. Dr. Ahmad Syalaby, dan Prof. Mahmud Yunus. Pemahaman mereka
terhadap Perbandingan agama boleh dikatakan masih sangat terbatas. Perbandingan
Agama dipahami hanya sebagai alat dakwah dan mengajarkan agama-agama lain
adalah untuk kepentingan pembuktian keunggulan agama Islam, demikian juga
halnya dengan buku-buku yang ditulis. Saat itu Perbandingan Agama sebagai ilmu
yang mempunyai metode, sistem, sejarah dan obyek pembahasan sendiri tampaknya
belum dikenal.
Dengan
pendekatan seperti itu, kecenderungan mengadakan perbandingan antara azas
terunggul yang dimilikinya dengan azas terlemah dari agama lain tak dapat dihindari.
Oleh karena itu generasi pertama ini dapat dikategorikan dalam kelompok
apologetik. Bahkan menurut Kautzar Azhari Noer, MA stap pengajar Perbandingan
Agama IAIN Jakarta, bisa disebutsebagai propagandis. Implikasinya, dialog yang
berkembang pada era ini terjadi pada tataran teologis dan mereka cenderung
saling menyalahkan, saling menuduh dan saling mengecam. Masing-masing agama
mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar dan berusaha mengajak penganut
agama lain agama mengkonversikan keyakinannya. Sehingga dialog yang berlangsung
pun tidak propesional. Meskipun demikian, apa yang telah disumbangkan oleh mereka
bukan tak ada artinya.
Periode
kedua adalah generasi A. Mukti Ali. Buku karangan A. Mukti
Ali Ilmu Perbandingan Agama, Sebuah Pembahasan Tentang Metodos dan Sistema
(1965). Dapat dijadikan sebagai momentum berkembangnya orientasi baru dalam
dialog antar agama. Mukti Ali menguraikan sejarah pertumbuhan Ilmu Perbandingan
Agama, Metodologi Studi Agama-agama, masaalah Orientalisme dan Oksidentalisme,
serta manfaat Ilmu Perbandingan Agama, sejak saat ini Perbandingan Agama
sebagai Ilmu mulai dikenal dan dikembangkan secara sungguh-sungguh. Selain itu
pada periode ini juga mulai dikenal sejumlah metode dan pedekatan dalam studi
agama-agama. Dikenalnya sejumlah pendekatan dan metode dalam studi agama-agama
itu tentu saja membawa implikasi positif bagi keberlangsungan dialog antar
agama di Indonesia. Dialog yang berlangsung pada priode ini tidak lagi berisi
salah pengertian dan kecaman antara penganut beragama tetapi justru menumbuhkan
upaya saling pengertian dan menggalang toleransi antar umat beragama. Apalagi
dengan semakin populernya pendekatan histories Fenomenologis, kesadaran
akan pentingnya prinsip agree in disagreement semakin menguat.[8]
Sebagai
seorang intelektual muslim yang moderat, Mukti Ali dianggap sebagai salah salah
satu Menteri Agama yang menempati posisi khusus dalam sejarah kebijakan
pemerintah Orde Baru bidang keagamaan. Peranan Mukti Ali bisa dilihat dari
berbagai pendekatan kepada para tokoh keagamaan, kepada para Ulama dan politisi
Muslim, ia meyakinkan adanya iktikad baik Pemerintah Orde Baru untuk membina
kehidupan umat beragama. Karena itu pemerintah merumuskan prinsip-prinsip
operasional bagi pembangunan agama, yang diperuntukkan kepada semua komunitas
beragama di Indonesia, dalam rangka melindungi, membantu, mendukung dan membina
semua bentuk kegiatan keagamaan.
Periode
ketiga adalah era dimana dialog antar umat beragama
diarahkan untuk memecahkan masaalah- masalah yang dihadapi secara bersama-sama oleh
berbagai penganut agama. Meminjam istilah Mudji Sutrisno era ini dapat dikatakan
sebagai periode “ Dialog Antar Agama dalam Pigura Humanisasi”. Maksudnya,
dialog dalam periode ini berisi pembicaraan mengenai tema-tema sentral problem
kemanusiaan universal, seperti kemiskinan, keterbelakangan, kependudukan,
lingkungan hidup, hak asasi manusia, bahkan masaalah buruh. Model seperti ini
berkembang dikalangan lembaga-lembaga swadaya masyrakat (LSM) yang dilandasi
oleh kesadaran manusia bahwa tantangan yang dihadapi oleh agama adalah
tantangan yang dihadapi pula oleh manusia. Berarti jika agama berurusan dengan
pengertian dakwah dan perbaikan nasib manusia dalam segala aspeknya, maka hal
yang sama juga ingin dicapai oleh manusia lepas dari apakah ia beragama ataupun
tidak sesuai tujuan yang hendak dicapai yaitu “ keselamatan” penganutnya bagi
setiap agama.
Dalam
konteks ini maka pengertian dakwah dan misi harus di defenisikan kembali. Bukan
lagi berbentuk upaya untuk mengajak penganut agama lain agar mengkonversikan
keyakinannya, tapi justru mengambil bentuk yang mengarah kepada perbaikan
kwalitas hidup manusia. Jika dakwah dan misi difahami dalam pengertian pertama,
tidak mustahil ia akan menjadi ganjalan serius, dalam pemecahan masaalah yang sedang
dihadapi bersama, tetapi pada tingkat dialog itu sendiri.[9]
[3]Djam’annuri, Studi Agama-Agama,
(Pustaka Rihlah: Yogyakarta, 2003), hlm.
59-61
[5]Zakiah Daradjat, Perbandingan
Agama 2, (Jakarta: Bumi Aksara, 1984), hlm.
87-88.
[6]Zakiah Daradjat, Perbandingan
Agama 2..... hlm. 98-99.
[7]Syamsudhuha Saleh, “Keharmonisan Antara Dialog Dan
Dakwah
(Perspektif Ilmu Perbandingan Agama)”. Makassar: Jurnal Al-Adyaan. Volume I. Nomor 2.
Desember 2015, 118.
DAFTAR PUSTAKA
Aizid,
Rizem. 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: Diva Press
Daradjat, Zakiah. 1984. Perbandingan
Agama 2. Jakarta: Bumi Aksara
Djam’annuri.
2003. Studi Agama-Agama. Yogyakarta: Pustaka Rihlah
Huda, Sokhi. 2002. Jurnal: Studi
Agama-Agama, Jombang: Fakultas Dakwah IKAHA
Romdhon.
1996. Metodologi Ilmu Perbandingan Agama. PT Raja Grafindo Persada:
Jakarta
Saleh,
Syamsudhuha. 2015. “Keharmonisan Antara Dialog Dan Dakwah
(Perspektif Ilmu Perbandingan Agama)”.
Makassar: Jurnal Al-Adyaan. Volume I. Nomor 2: 118-120

EmoticonEmoticon