Minggu, 09 Desember 2018

PERBANDINGAN AGAMA: TUJUAN DAN FAEDAH MEMPELAJARI ILMU PERBANDINGAN AGAMA

pixabay


A.   Tujuan Mempelajari Ilmu Perbandingan Agama
Studi agama-agama tidak menonjolkan ego agama, melainkan memahami makna-makna ajaran, historisitas, dan fenomena agama dalam realitas kesejarahan hidup manusia, untuk menemukan titik kerukunan antar Tuhan dan agar terwujud kerukunan antarumat beragama.[1]
Studi agama-agama adalah sebuah cabang ilmu pengetahuan yang berusaha untuk memahami gejala-gejala kepercayaan-kepercayaan dalam agama-agama dan hubungan antar agama-agama, baik dalam aspek normatif-doktrinal, historis-empiris, maupun kritik filosofis. Pemahaman ini meliputi nilai-nilai kedirian suatu agama dan persamaan dan perbedaan antar agama-agama. Dalam studi tersebut, struktur yang asasi dari pengalaman keagamaan manusia dan pentingnya bagi hidup dan kehidupannya dipelajari dan diperbandingkan secara objektif, bukan secara apologis dan apologetis.
Tujuan kuliah ilmu perbandingan agama bagi mahasiswa ini dapat dikategorikan menjadi tujuan umum dan tujuan khusus.
1. Tujuan Umum
Untuk memberikan dasar-dasar wawasan tentang agama-agama yang meliputi: aspek normatif-teologis-doktinal maupun aspek historis-empiris-fenomenal.
2. Tujuan Khusus
Untuk memberikan bekal wawasan lintas agama bagi para pelaku studi dan praktisi dakwah Islam, agar mereka tidak mudah terjebak pada sikap-sikap apologis, apologetis, dan bahkan diskriminatif dalam studi dan praktik dakwah Islam.[2]
Adapun tujuan dari ilmu perbandingan agama adalah untuk mengumpulkan dan mencatat hal-hal berkaitan dengan agama, seperti; sejarah kelahirannya, perkembanganya, bagaimana ajaranya, dimana agama tersebut menyebar, siapa pendirinya dan lain lain. Ilmu ini juga merupakan sebuah langkah awal dari terciptanya toleransi antara umat beragama. Toleransi akan tercipta apabila satu agama memahami agama yang lain. Pemahaman tersebut akan terwujud bila ia mengenali agama lain. Contoh, umat Kristen akan toleran terhadap sholat bila ia memahami dan mengetahui bahwa sholat merupakan ibadah wajib bagi setiap kaum muslim. Kelalaian dalam sholat oleh seorang muslim merupakan suatu dosa besar.[3]
Tujuan lain dari ilmu perbandingan agama adalah mencari asal usul agama, pembahasannya biasanya berkisar tentang dari manakah agama itu berasal apakah benar ia berasal dari wahyu ilahi? Kalau tidak apakah ia berasal dari penyembahan nenek moyang atau lainnya?[4]

  1. Faedah Mempelajari Ilmu Perbandingan Agama
Prof. Dr. H. Mukti Ali dalam bukunya Ilmu Perbandingan Agama (Sebuah Pembahasan tentang Metodos dan Sistema), mengemukakan bahwa guna dan faedah ilmu perbandingan agama bagi seorang muslim adalah:
1.    Memahami kehidupan batin, alam pikiran dan kecenderungan hati berbagai umat manusia.
2.    Mencari dan menemukan segi-segi persamaan dan perbedaan antara agama Islam dengan agama-agama bukan Islam. Hal ini sangat berguna untuk perbandingan, untuk membuktikan, di manakah segi-segi dari agama Islam yang melebihi agama-agama lain, berguna juga untuk menunjukkan bahwa agama-agama lain yang datang sebelum Islam itu adalah sebuah pengantar terhadap kebenaran yang lebih luas dan lebih penting dari agama Islam.
3.    Menumbuhkan rasa simpati terhadap orang-orang yang belum mendapat petunjuk tentang kebenaran, serta menimbulkan rasa tanggung jawab untuk menyiarkan kebenaran-kebenaran yang terkandung dalam agama Islam kepada masyarakat ramai.[5]
Juga pendapat Richard E. Creel, bahwa ada beberapa alasan mengapa ilmu perbandingan agama itu penting karena tujuan dan manfaat yang akan di peroleh nantinya. Khusus mengenai Ilmu Perbandingan Agama ada tiga yang terpenting:
1.    Kalau untuk pendidikan tinggi, berarti mengenal dengan baik beberapa aspek yang mendasar tentang eksistensi manusia, maka mustahil seseorang yang berpendidikan tinggi mengabaikan pemahaman terhadap agama secara masak. Mengapa ? Karena agama adalah satu komponen eksistensi manusia yang paling kuno, universal dan abadi. Tanpa meninggalkan keantikanya, apabila kita melihat ke belakang maka kita akan menelusuri budaya manusia dan menemukan beberapa bukti kepercayaan agama maupun praktek-prakteknya. Bukti tersebut misalnya berupa bentuk atau corak pemakaman, kuburan, lukisan yang di tatahkan pada dinding-dinding gua dan sebagainya.
2.    Mempelajari agama, khususnya perbandingan agama adalah memahami agama lain dan para pemeluknya dengan lebih baik sehingga dengannya kita dapat berkomunikasi secara lancar. Di antara hal yang harus kita ketahui supaya manusia dapat berkomunikasi dengan baik dan lancar adalah dengan cara mengenal kepercayaan dan keyakinan seseorang maupun praktek-prakteknya..
3.    Untuk kepentingan pribadi, secara langsung dan secara mendalam agama banyak kaitannya dengan beberapa hal yang selalu hadir dalam sanubari kita. Karena itu sudah selayaknyalah dan sudah sewajarnya kalau kita mempelajari agama. sebagai suatu usaha menemukan diri kita sendiri dan memahami realitas, di mana kita merupakan salah satu bagian dari padanya.[6]
Dan kalau kita setuju dengan tulisan Richard E. Creel, maka seorang ahli ilmu perbandingan agama harus menempatkan diri agar tidak bersifat apologis, karenanya:
1.    Untuk menjadi seorang ahli ilmu perbandingan agama tidak perlu terbatas pada suatu pendidikan tinggi.
2.    Sebagai seorang ahli ilmu perbandingan agama, dia harus tidak memihak kepada agama tertentu dan tidak perlu khawatir terpikat oleh ajaran-ajaran agama lain.
3.    Sebagai seorang ahli ilmu perbandingan agama dalam mendekati agama secara memperbandingkan dengan suatu agama tertentu mungkin tertarik mempraktekkan ajaran-ajaran dalam suatu konteks yang non apologetis karena itu seorang ahli ilmu perbandingan agama perlu mengidentifikasi tugas-tugasnya dengan beberapa hal seperti:
a)         Mengidentifikasi tema maupun elemen-elemen yang membelah lintang agama-agama pada umumnya, seperti misalnya ritus agama, mitos agama, korban, simbol agama dan lain-lainya.
b)        Memperlihatkan dan menunjukkan keanekaragaman bentuk-bentuk ritus, mitos dan korban serta simbol yang ada dalam agama dan kepercayaan.
c)         Membandingkan dan mempertentangkan, dengan menghargai sepenuhnya agama-agama tertentu tadi dalam masalah-masalah ritus, mitos dan korban serta simbol.
d)        Semestinya bertindak sebagai wasit antara tradisi dan ajaran agama yang membantu orang untuk mencapai suatu pemahaman yang akurat dan mendalam, dan juga membantu menemukan beberapa istilah dan konsep yang dapat menjelaskan pemahaman dia sendiri dan pemahaman orang lain.
C.    Kontekstualisasi Tujuan Dan Faedah Ilmu Perbandingan Agama Dalam Dunia Pendidikan Islam
Salah satu tujuan Ilmu perbandingan Agama, mengutip Joachim Wach dalam bukunya The Comparative Studi of Religions ( 1958), adalah memahami agama-agama lain.Untuk mencapai tujuan itu, seorang ahli perbandingan agama membutuhkan sejumlah kelengkapan, yaitu kelengkapan intelelektual, kondisi emosional, dan terakhir kelengkapan pengalaman. Selanjutnya Wach juga menekankan pentingnya metodologi yang dipergunakan dalam studi agama-agama, tampah mengabaikan manfaat pendekatan-pendekatan yang telah ada, Wach menganjurkan agar mempergunakan metode fenomenologi agama. Bertolak dari pandangan Wach diatas, ilmu perbandingan agama di Indonesia, setidak-tidaknya dapat ditelusuri perkembangannya melalui tiga periode;[7]
Periode pertama adalah generasi sebelum era A. Mukti Ali, seperti Ilyas Ya’kub, Prof. Dr. Ahmad Syalaby, dan Prof. Mahmud Yunus. Pemahaman mereka terhadap Perbandingan agama boleh dikatakan masih sangat terbatas. Perbandingan Agama dipahami hanya sebagai alat dakwah dan mengajarkan agama-agama lain adalah untuk kepentingan pembuktian keunggulan agama Islam, demikian juga halnya dengan buku-buku yang ditulis. Saat itu Perbandingan Agama sebagai ilmu yang mempunyai metode, sistem, sejarah dan obyek pembahasan sendiri tampaknya belum dikenal.
Dengan pendekatan seperti itu, kecenderungan mengadakan perbandingan antara azas terunggul yang dimilikinya dengan azas terlemah dari agama lain tak dapat dihindari. Oleh karena itu generasi pertama ini dapat dikategorikan dalam kelompok apologetik. Bahkan menurut Kautzar Azhari Noer, MA stap pengajar Perbandingan Agama IAIN Jakarta, bisa disebutsebagai propagandis. Implikasinya, dialog yang berkembang pada era ini terjadi pada tataran teologis dan mereka cenderung saling menyalahkan, saling menuduh dan saling mengecam. Masing-masing agama mengklaim bahwa dirinyalah yang paling benar dan berusaha mengajak penganut agama lain agama mengkonversikan keyakinannya. Sehingga dialog yang berlangsung pun tidak propesional. Meskipun demikian, apa yang telah disumbangkan oleh mereka bukan tak ada artinya.
Periode kedua adalah generasi A. Mukti Ali. Buku karangan A. Mukti Ali Ilmu Perbandingan Agama, Sebuah Pembahasan Tentang Metodos dan Sistema (1965). Dapat dijadikan sebagai momentum berkembangnya orientasi baru dalam dialog antar agama. Mukti Ali menguraikan sejarah pertumbuhan Ilmu Perbandingan Agama, Metodologi Studi Agama-agama, masaalah Orientalisme dan Oksidentalisme, serta manfaat Ilmu Perbandingan Agama, sejak saat ini Perbandingan Agama sebagai Ilmu mulai dikenal dan dikembangkan secara sungguh-sungguh. Selain itu pada periode ini juga mulai dikenal sejumlah metode dan pedekatan dalam studi agama-agama. Dikenalnya sejumlah pendekatan dan metode dalam studi agama-agama itu tentu saja membawa implikasi positif bagi keberlangsungan dialog antar agama di Indonesia. Dialog yang berlangsung pada priode ini tidak lagi berisi salah pengertian dan kecaman antara penganut beragama tetapi justru menumbuhkan upaya saling pengertian dan menggalang toleransi antar umat beragama. Apalagi dengan semakin populernya pendekatan histories Fenomenologis, kesadaran akan pentingnya prinsip agree in disagreement semakin menguat.[8]
Sebagai seorang intelektual muslim yang moderat, Mukti Ali dianggap sebagai salah salah satu Menteri Agama yang menempati posisi khusus dalam sejarah kebijakan pemerintah Orde Baru bidang keagamaan. Peranan Mukti Ali bisa dilihat dari berbagai pendekatan kepada para tokoh keagamaan, kepada para Ulama dan politisi Muslim, ia meyakinkan adanya iktikad baik Pemerintah Orde Baru untuk membina kehidupan umat beragama. Karena itu pemerintah merumuskan prinsip-prinsip operasional bagi pembangunan agama, yang diperuntukkan kepada semua komunitas beragama di Indonesia, dalam rangka melindungi, membantu, mendukung dan membina semua bentuk kegiatan keagamaan.
Periode ketiga adalah era dimana dialog antar umat beragama diarahkan untuk memecahkan masaalah- masalah yang dihadapi secara bersama-sama oleh berbagai penganut agama. Meminjam istilah Mudji Sutrisno era ini dapat dikatakan sebagai periode “ Dialog Antar Agama dalam Pigura Humanisasi”. Maksudnya, dialog dalam periode ini berisi pembicaraan mengenai tema-tema sentral problem kemanusiaan universal, seperti kemiskinan, keterbelakangan, kependudukan, lingkungan hidup, hak asasi manusia, bahkan masaalah buruh. Model seperti ini berkembang dikalangan lembaga-lembaga swadaya masyrakat (LSM) yang dilandasi oleh kesadaran manusia bahwa tantangan yang dihadapi oleh agama adalah tantangan yang dihadapi pula oleh manusia. Berarti jika agama berurusan dengan pengertian dakwah dan perbaikan nasib manusia dalam segala aspeknya, maka hal yang sama juga ingin dicapai oleh manusia lepas dari apakah ia beragama ataupun tidak sesuai tujuan yang hendak dicapai yaitu “ keselamatan” penganutnya bagi setiap agama.
Dalam konteks ini maka pengertian dakwah dan misi harus di defenisikan kembali. Bukan lagi berbentuk upaya untuk mengajak penganut agama lain agar mengkonversikan keyakinannya, tapi justru mengambil bentuk yang mengarah kepada perbaikan kwalitas hidup manusia. Jika dakwah dan misi difahami dalam pengertian pertama, tidak mustahil ia akan menjadi ganjalan serius, dalam pemecahan masaalah yang sedang dihadapi bersama, tetapi pada tingkat dialog itu sendiri.[9]


[1]Sokhi Huda, Jurnal: Studi Agama-Agama, (Jombang: Fakultas Dakwah IKAHA, 2002), hlm. 2
[2]Sokhi Huda, Jurnal: Studi Agama-Agama........ hlm. 7
[3]Djam’annuri, Studi Agama-Agama, (Pustaka Rihlah: Yogyakarta, 2003),  hlm. 59-61
[4]Romdhon,  Metodologi Ilmu Perbandingan Agama, (PT Raja Grafindo Persada: Jakarta, 1996),  hlm. 7
[5]Zakiah Daradjat, Perbandingan Agama 2, (Jakarta: Bumi Aksara, 1984), hlm.  87-88.
[6]Zakiah Daradjat, Perbandingan Agama 2..... hlm. 98-99.
[7]Syamsudhuha Saleh, “Keharmonisan Antara Dialog Dan Dakwah (Perspektif Ilmu Perbandingan  Agama)”. Makassar: Jurnal Al-Adyaan. Volume I.  Nomor 2.  Desember 2015, 118.
[8]Syamsudhuha Saleh, “Keharmonisan Antara Dialog Dan Dakwah....., 119.
[9]Syamsudhuha Saleh, “Keharmonisan Antara Dialog Dan Dakwah........, 120.



DAFTAR PUSTAKA
Aizid, Rizem. 2015. Sejarah Peradaban Islam Terlengkap. Yogyakarta: Diva Press
Daradjat, Zakiah. 1984. Perbandingan Agama 2. Jakarta: Bumi Aksara
Djam’annuri. 2003. Studi Agama-Agama. Yogyakarta: Pustaka Rihlah
Huda, Sokhi. 2002. Jurnal: Studi Agama-Agama, Jombang: Fakultas Dakwah IKAHA
Romdhon. 1996. Metodologi Ilmu Perbandingan Agama. PT Raja Grafindo Persada: Jakarta 
Saleh, Syamsudhuha. 2015. “Keharmonisan Antara Dialog Dan Dakwah (Perspektif Ilmu Perbandingan  Agama)”. Makassar:  Jurnal Al-Adyaan. Volume I.  Nomor 2: 118-120 


EmoticonEmoticon